Pengaruh Seni Arsitektur India

Sebagai akibat dari dikenalnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha
maka kebudayaan bangsa Indonesia (terutama Jawa) juga mengalami
perkembangan. Hal itu bisa dilihat dari seni arca dan seni bangunan (arsitektur).
Sebelum kedatangan pengaruh Hindu-Buddha, bangsa kita memiliki
kebiasaan membuat bangunan megalitikum untuk menghormati arwah leluhur.
Saat pengaruh India yang memuja tempat-tempat tinggi masuk Indonesia,
bangsa Indonesia juga mengikutinya. Apabila dilihat perkembangannya, maka
bangunan-bangunan awal hanya berbentuk bangunan batur (soubasement)
yang terbuka. Belum ada atap sehingga arca atau lingga dan yoni bisa terlihat
dari luar.
Mulai abad IX M, terjadi perubahan besar di dalam seni arsitektur. Misalnya
dengan penambahan dinding, relung-relung, dan struktur atap yang terbuat
dari batu. Bangunan ini terlihat pada candi di Jawa Tengah seperti Candi Bima
di Dieng, Candi Lumbung di Prambanan, dan Candi Pervara di kompleks Candi
Sewu. Semakin tinggi pengaruh Hindu-Buddha yang masuk maka bentuk
bangunannya semakin sesuai dengan kaidah ajaran Hindu-Buddha atau kuil-
kuil pemujaan dewa yang ada di India. Misalnya beberapa candi di Dieng mirip
dengan Arjuna Ratha, Draupadi Ratha, dan Dharmaraja Ratha dari Dinasti
Pallava di Mabalipuram. Atau Candi Bima yang mirip dengan bangunan suci
Orissa di India. Atap Candi Bima yang dihiasi sikhara mirip dengan atap kuil
pemujaan dewa pada bangunan Parasurameswara di Bhuvaneswara.
Setelah keahlian membuat bangunan itu diterima oleh masyarakat maka
selanjutnya dikembangkan sesuai dengan kebudayaan lokal yang telah
berkembang sebelumnya. Ciri-ciri keindiaan hanya tinggal seni arca dan
ornamennya dan semakin pudar seiring dengan semakin menguatnya kreasi
lokal. Misalnya pada Candi Barong dan Candi Ijo yang halamannya dibuat
bertingkat seperti punden berundak dalam bangunan prasejarah.
Mulai abad XIII–XV M seni arsitektur bangunan suci telah memiliki gaya
dan bentuk sendiri. Bentuk arsitekturnya bisa dilihat dari candi-candi bergaya
Singasari, gaya Candi Ijo, gaya Candi Brahu, dan gaya punden berundak.
Dalam keempat gaya tersebut, pengaruh India sudah menipis dan tinggal
sedikit. Bahkan kompleks bangunan Candi Panataran tidak lagi menampilkan
corak bangunan suci seperti di Jawa Tengah tetapi sudah mengakomodasi
seni bangunan Bali. Apalagi gaya punden berundak, jelas merupakan model
asli pribumi yang dikembangkan kembali. Akhirnya pengaruh India hanya
tinggal konsep-konsep keagamaan, kedewataan, dan cerita-cerita epik saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar